Sang Guru,PGRI Cenrana

Rabu, 22 Juni 2011

ARTI LAMBANG PB PGRI
Bentuk:
Cakra/Lingkaran melambangkan cita-cita luhur dan daya upaya menunaikan
pengabdian terus-menerus.
Ukuran, corak, dan warna:
 bidang
bagian pinggir Lingkaran berwarna merah melambangkan pengabdian yang dilandasi
kemurnian dan kebernian bagi kepentingan rakyar. Warna putih dengan tulisan
"Persatuan Guru Republik Indonesia" melambangkanpengabdian yang
dilandasi kesucian dan kasih sayang. Panduan warna pinggir merah-putih
melambangkan pengabdian kepada negara, bangsa dan tanah air Indonesia.
Suluh berdiri tegak bercorak 4 garis tegak dan datar berwarna kuning melambangkan fungsi guru (pada
pendidikan pra-sekolah, dasar, menengah dan perguruan tinggi) dengan hakikat
tugas pengabdian guru sebagai pendidik yang besar dan luhur.
Nyala Api dengan 5 sinar warna
merah
melambangkan arti ideologo Pancasila dan arti teknis yakni
sasaran budi pekerti, cipta, rasa, karsa dan karya generasi.
Empat buku mengapit suluh
dengan posisi 2 datar dan 2
tegak (simetris) dengan warna corak putih melambangkan sumber ilmu yang
menyangkut nilai-nilai moral, pengetahuan, keterampilan dan ahlak bagi
tingkatan lembaga-lembaga pendidikan pra-sekolah, dasar, menengah dan tingi.
Warna dasar tengah hijau,
melambangkan kemakmuran
generasi.



Anggaran Dasar PGRI

ANGGARAN DASAR
PEMBUKAAN
Didorong oleh keinginan luhur untuk berperanserta secara aktif menegakkan, mengamankan, mengisi dan melestarikan Negara Kesatuan Republik Indonesia yang diproklamasikan pada tanggal 17 Agustus 1945 serta usaha mencerdaskan kehidupan bangsa seperti terkandung dalam Pembukaan Undang-Undang Dasar 1945 dan mewujudkan peningkatan harkat, martabat, dan kesejahteraan guru khususnya serta tenaga kependidikan pada umumnya, maka perlu dibentuk suatu organisasi.
Atas berkat dan rahmat Tuhan Yang Maha Esa, maka pada 25 November 1945 dalam kongres guru Indonesia di Surakarta, telah didirikan satu organisasi guru dengan nama Persatuan Guru Republik Indonesia  disingkat PGRI.
PGRI sebagai tempat berhimpunnya segenap guru dan tenaga kependidikan lainnya merupakan organisasi perjuangan, organisasi profesi, dan organisasi ketenagakerjaan yang berdasarkan  Pancasila, bersifat unitaristik,

Minggu, 19 Juni 2011

Pendidikan Karakter Bangsa akan Diajarkan pada 2014

Penulis : Syarief Oebaidillah
JAKARTA--MI: Kementerian Pendidikan Nasional (Kemendiknas) telah menyusun grand design pendidikan karakter bangsa. Ditargetkan, seluruh satuan pendidikan telah mengembangkannya pada 2014.
Hal tersebut disampaikan Kepala Badan Penelitian dan Pengembangan (Kabalitbang) Kemendiknas, Mansyur Ramli, pada Seminar Nasional Pendidikan Karakter Bangsa di Hotel Novotel, Bogor, Jawa Barat, belum lama ini.
"Pusat kurikulum sampai saat ini sudah membentuk master trainer yang diharapkan melatih para guru, kepala sekolah, dan pengawas untuk bisa menghidupkan atau menjadi pioner pendidikan karakter bangsa di satuan pendidikan," kata Mansyur Ramli saat membuka seminar tersebut.
Mansyur menyatakan optimistis pendidikan karakter dapat segera diimplementasikan pada satuan pendidikan. Sekurang-kurangnya, kata dia, 25 persen satuan pendidikan mulai menerapkan pada 2012.
"Sudah banyak satuan pendidikan, perguruan tinggi, berbagai tokoh masyarakat,

Buang Saja PGRI !!! (???)

Tulisan di bawah ini aq kopas dari  http://suciptoardi.wordpress.com/
Aku tergelitik untuk memuatnya, bernapsu ada keiiginan untuk saling mengingatkan. Sadar karena Indonesia butuh guru yang mutlak harus 'lebih' tetapi bukan guru yang dimanfaati oleh oknum penguasa saja, misalnya ketika kampanye pemilu/pemilukada. Jangan guru, hanya menjadi bagian dari korban-korban picik oleh fihak manapun, sementara mereka merintih' karena nyaris sebagian guru honorer, misalnya, tak berkutik dengan system....berikut kopasnya :

Rabu, 15 Juni 2011

Kejujuran Siami

JAKARTA, KOMPAS.com - Wakil Ketua Majelis Permusyawaratan Rakyat, Lukman Hakim Saifuddin, merasa tergugah dengan kejujuran Siami (38), ibu siswa SDN Gadel II, Tandes, Surabaya, Alif Ahmad Maulana (13). Siami mengungkap kecurangan yang terjadi saat ujian nasional 2011.
Menurut, Lukman, sosok Siami sebagai penyebar virus kejujuran yang harus dilindungi, karena dapat membawa inspirasi bagi masyarakat. "Kejujuran itu kan modal dasar dari karakter kita. Orang-orang seperti Bu Siami itu harus ditokohkan sebagai ibu kejujuran, supaya virus kejujuran itu semakin tersebar di masyarakat. Bukan malah dikucilkan lalu dipojokkan," ujar Lukman di Gedung MPR RI, Jakarta, Rabu (15/06/2011).
Ia menyebutkan, sikap masyarakat yang mengusir Siami merupakan ancaman besar untuk bangsa ini. Padahal MPR saat ini sedang menegakkan empat pilar penting dalam karakter bangsa yaitu Pancasila, Undang-Undang Dasar 1945, NKRI, dan Bhineka Tunggal Ika.
Kejujuran termasuk dalam nilai penting dalam menegakkan empat pilar itu. Apalagi di tengah banyaknya kasus korupsi, yang condong dengan ketidakjujuran.
"MPR tidak hanya sekedar memberikan empati, simpati kepada Ibu Siami, tetapi ingin memberikan penghormatan dan apresiasi bahwa kejujuran seperti dia itu sesuatu yang mulia dan harus kita hormati," ucap Lukman Hakim Saifudin.

Sisi Lain Laporan Kegiatan PGRI Cenrana

oleh : HERUSUBROTO, S.Pd.
Pengurus Cabang PGRI Kecamatan Cenrana beserta para penguru dan anggota menyambut sepenuhnya pembangunan gedung guru baru yang diperkirakan akan menelan biaya sekitar Rp1,8M berdasarkan kalkulasi kasar yang telah disosialisaikan ke segenap jajaran anggota PGRI Kabupaten Bone dan diteruskan melalui rapat singkat istimewa di tiap pengurus ranting. Upaya ini dilakukan sebagai langkah antisipatif untuk menanggulangi sekaligus upaya penggalangan dana.
Memang harus diakui, pembangunan gedung baru ini adalah langkah jitu pihak pengurus dan seluruh jajaran anggota PGRI sebagai salah satu

Selasa, 14 Juni 2011

Nasib guru dan tuntutan profesionalisme

Spirit NTT, 1-6 Desember 2008, Oleh Edy Firmansyah *

TAPI masalahnya bagaimana para guru dapat memenuhi standar profesionalisme seperti yang diharapkan masyarakat sementara nasib guru sendiri tak menentu? Bukan rahasia umum lagi yaitu gaji guru yang rendah. Dengan gaji yang kecil dari pemerintah itu, para guru dipaksa mengajar sembari memenuhi kebutuhan ekonomi yang kian melangit dan biaya pendidikan anak-anak mereka yang kian tak tersentuh
Nasib suram masih menyelimuti guru Indonesia. Buktinya tiap kali memperingati hari Guru

Komentar